Kamis, 31 Januari 2013

Dampak Layanan Paud di kota Baubau


Bagaimana dampak layanan PAUD di daerah Kota Baubau???????????

1.        Kesiapan anak memasuki pendidikan lebih lanjut
2.      Mengurangi angka mengulang kelas
3.      Mengurangi angka putus sekolah
4.     Memeprcepat pencapaian wajib belajar
5.      Meningkatkan  mutu pendidikan
6.     Mngurangi anka buta huruf muda
7.      Memeerbaiki derajat kesehatan & gizi anak balita

Jawaban   :

Anak merupakan generasi penerus yang di tangannya harapan keluarga diberikan. Untuk mewujudkan harapan tersebut tidak sedikit keluarga yang mempersiapkan anak-anaknya dengan perhatian, kasih sayang dan pemberian kesempatan yang seluas-luasnya. Karena itu, anak bagi keluarga memiliki seperangkat nilai yang dilekatkan pada mereka (Amriyani, 2006).
Berkenaan dengan nilai anak tersebut, maka berbagai upaya yang dilakukan oleh orang tua dalam mepersiapkan anak-anaknya, agar kelak anak tersebut dapat memberikan kesenangan dan kebanggan orang tua. Salah satu yang perlu dilakukan oleh orang tua sedini mungkin adalah memperbaiki kualitas pengasuhan anak pada golden age.
Pendidikan bagi anak dini usia (golden age) tidak hanya sekedar memberikan berbagai pengalaman belajar seperti pendidikan pada orang dewasa, tetapi juga berfungsi mengoptimalkan perkembangan kapabilitas kecerdasannya. Pendidikan disini hendaknya diartikan secara luas, mencakup seluruh proses stimulasi psikososial yang tidak terbatas pada proses pembelajaran yang dilakukan secara klasikal. Artinya pendidikan dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja, baik yang dilakukan sendiri di lingkungan keluarga maupun oleh lembaga pendidikan di luar lingkungan keluarga. Hal ini, merupakan alasasn kuat diadakannya layanan PAUD, khususnya di kota Baubau.
Layanan PAUD yang diprogramkan pemerintah kota di kota Baubau akhir-akhir ini membawa dampak positif bagi pendidikan anak usia dini. Berpijak pada target Nasional, maka target Daerah Kota Bau-Bau yang hendak dicapai dalam pelayanan, perawatan dan pendidikan bagi anak usia dini di Indonesia ialah “pada tahun 2015 mendatang sekitar 85% anak usia dini terlayani Perawatan dan Pendidikannya”.
Adapun dampak positif yang secara nyata di lihat di kota Baubau akan layanan PAUD adalah sebagai berikut :
Petama, layanan PAUD di tujukan untuk mempersiapkan anak memasuki pendidikan lebih lanjut, yang mana menurut data statistic tahun 2011 jumlah anak usia dini khususnya 0-4 tahun diperkirakan sekitar 15.961 jiwa. Untuk itu, kota Baubau memprogamkan layanan Perawatan dan Pendidikan Anak Usia Dini secara menyeluruh.Hal ini  dapat di lihat pada perkembangan lembaga PAUD di kota Baubau beberapa tahun terakhir.

Adapun lembaga-lembaga pendidikan Anak usia dini yang sudah terselenggara di Kota Baubau meliputi ;
1.        Taman Kanak-Kanak(TK) terdiri dari 2 buah TK Negeri dan 56 buah TK swasta,
2.       Raudatul Athfal (RA) berjumlah 4 buah tardapat di Kecamatan Betoambari, Wolio, Murhum dan Bungi, semuanya berstatus swasta.
3.       Kelompok Bermain (Kober) sebanyak 28 Kelompok menyebar di 28 kelurahan utamnya kelurahan yang belum memiliki TK/RA.
4.      Bina Keluarga Balita (BKB),diselenggarakan oleh BKKBN Kota Bau-Bau. Jumlah lembaga layanan sebanyak 43 BKB yang tersebar di setiap kelurahn di Kota Bau-Bau.
5.       Posyandu Terintegrasi PAUD (POSPAUD) yang dilaksanakn bersama oleh Dinas  Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan Kota Baubau.

Oleh karena itu, dengan adanya lembaga-lembaga PAUD tersebut diatas, maka anak usia dini khususnya di kota Baubau, ternyata sudah memiliki kesiapan untuk memasuki atau menempuh pendidikan lebih lanjut.

Kedua, layanan PAUD dikota Baubau khususnya yang diselenggarakn oleh Dinas Kesehatan yaitu ditujukan untuk memperbaiki derajat Kesehatan dan Gizi anak balita. Layanan kesehatan dan gizi anak ini diselenggarakan oleh masyarakat dibawah koordinasi dan binaan Dinas Keshatan. Pada tahun 2009 jumlah Posyandu di Kota Bau-Bau sebanyak 40 buah tersebar di semua kelurahan. Belum ada data yang pasti tentang jumlah penduduk usia 4-6 tahun pada saat itu yang menjadi sasaran layanan posyandu ini, akan tetapi pelayanan kesehatan ibu dan anak melalui kegiatan Posyandu menunjukan adanya kepuasan masyarakat.

Ketiga, layanan PAUD di kota Baubau ternyata berdampak positif terhadap jumlah angka putus Sekolah anak di Kota Baubau. Berdasarkan pengamatan, beberapa Tahun terakhir anak usia dini di kota Baubau hampir tidak ada satupun anak yang tidak melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi walaupun latar belakang ekonomi & pendidikan kelurga rendah.
Oleh karena itu,layanan PAUD di kota Baubau telah mengurangi anka buta huruf muda pada anak usia dini dikota Baubau pada umumnya. Hal ini dapat dilihat pada anak-anak yang berusia 5-6 tahun. Rata-rata pada usia ini, anak sudah mengenal abjad bahkan sudah dapat menghubungkan huruf-huruf tersebut menjadi kata bahkan menjadi kalimat.

Selajnutnya , layanan PAUD di kota Baubau ditujukan untuk mengurangi angka mengulang kelas bagi anak-anak yang memasuki jenjang berikutnya karena adanya kesiapan-kesiapan yang ada pada diri anak itu sendiri sebagai dampak positif akan layanan yang diterima anak pada usia dini dalam lembaga PAUD. Berdasarkan pengamatan penulis, jumlah angka mengulang kelas disetiap sekolah sekitar o,99  pada beberapa tahun terakhir.

Selain hal-hal tersebut di atas, ternyata layanan PAUD di kota Baubau memberikan dampak positif pada percepatan pencapaian wajib belajar. Hal ini dapat dilihat dari antusiasme para orang tua untuk cepat menyekolahkan anaknya pada tingkatan Sekola Dasar(SD) dengan alasan bahwa anaknya sudah bisa membaca dan menulis. Sehingga mereka berpikir bahwa anak-anaknya sudah wajib belajar di SD, walaupun usia anak-anak tersebut masih belum cukup 7 tahun sesuai UU. No. 20 tahun 2003.

Yang terakhir, dampak positif dari layanan PAUD di kota Baubau adalah meningkatakan mutu pendidikan serta smber daya manusia Baubau secara menyeluruh. Sebagaimana di amanatkan oleh GBHN bahwa sasaran pembangunan pendidikan dititikberatkan pada peningkatan mutu dan prluasan mutu dan perluasan kesempatan belajar pada semua jenjang pendidikan yaitu mulai dari Taman Kanak-Kanak sampai dengan perguruan tinggi.
Upaya peningkatan mutu pendidikan yang ingin dicapai tersebut dimaksudkan untuk menghasilkan sumber daya manusia seutuhnya. Sedangkan perluasan  kesempatan belajar dimaksudkan agar penduduk usia sekolah yang setiap tahunnya mengalami peningkatan sejalan dengan
pertumbuhan penduduk untuk dapat memperoleh kesempatan pendidikan yang seluas-luasnya.

          Hal ini didukung oleh adanya program=-program pedidikan yang diselenggrak oleh pemerintah setempat, misalnya kesiapan daerah Kota Bau-Bau menyelenggarakan Wajib Belajar 12 Tahun setidaknya dapat dilihat dari ketercapaian pelaksanaan Kepmendagri Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Periotas Pembiayaan Pendidikan dikaitkan dengan keberhasilan dalam pelaksanaan tiga pilar permasalahan pendidikan yaitu 1) Perluasan dan pemerataan akses pendidikan yang berkualitas, 2) Peningkatan mutu dan relevansi pendidikan, dan 3) Manajemen, tata kelola, dan citra publik. Khusus Bidang Pemerataan dan Perluasan Akses Pendidikan yang berkaitan dengan penyelenggaraan Wajib Belajar yang meliputi; PAUD, Program Wajar 9 tahun, Program pendidikan Menengah, Program Pendidikan Luar Biasa, Program pendidika luar sekolah, Program Peningkatan kualitas Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Program Manajemen akuntabilitas dan pencitraan public.

Selasa, 29 Januari 2013

Ujian Tengah Semester mata kuliah Orientasi Baru Psikologi Pendidikan

Ujian Tengah  Semester
Orientasi Baru Psikologi Pendidikan




 









Disusun oleh :


Henny
7516120237

Dosen : Prof. Yufiarti, M.Pd







PROGRAM PASCASARJANA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
UNIVERSITAS  NEGERI JAKARTA
2013




Soal UTS       :

1.       Jelaskan yang dimaksud dengan orientasi baru psikologi pendidikan
2.      Berikan contoh penerapan  dalam Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
3.      Bagaiman meningkatkan kemandirian anak di Pendidikan anak usia dini (PAUD)

Berikut ini adalah jawaban dari soal ujian Tengah semester

A.    Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan

Orientasi baru psikologi pendidikan adalah suatu pandangan yang mendasari pikiran, perhatian, kecenderungan  ataupun pengenalan dan adaptasi terhadap perilaku manusia di dunia pendidikan yang meliputi  studi sistematis tentang proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikanyang berupa indoktrinasi terhadap filosofi, aliran-aliran  psikologi dalam ilmu pendidikan untuk menentukan arah sikap yang tepat dan benar dengan tujuan untuk memberikan pemahaman kepada pembelajar tentang ruang lingkup psikologi dalam pendidikan dan memberikan informasi tentang kajian-kajian psikologi dalam bidang pendidikan berupa aliran-aliran serta teori-teori pembelajaran yang digunakan sehingga tidak timbul kesalahan dalam pengkajiannya. Orientasi baru psikologi pendidikan juga dimaksudkan untuk memberikan arahan pada pembelajar psikologi kaitannya dengan pendidikan.

Orientasi baru psikologi pendidikan ini mencakup :

·         konsep-konsep ilmu jiwa dan konsep psikologi,
·         Psikologi teoritis dan psikologi terapan,
·         Segi kemanusiaan (individu, social, ketuhanan),
·         mahzab psikologi pendidikan yang meliputi;
ü  Behaviorisme (Pavlov, Watson, Skinner, Bandura);
ü  Psikodinamika (Frued, Jung, Adler, Kunkel);
ü  Humanis (Maslow)
ü  Kognitif
ü   
·      Psikologi Belajar, yang mencakup persamaan dan perbedaan konsep belajar, berkembang dan berpikir serta factor-faktor IQ, MI, EQ, CQ, AQ, motivasi, sumber, prinsip dan strategi pembelajaran.

B.     Penerapan Orientasi Baru Psikologi Pendidikan dalam Pembelajaran Anak Usi Dini

Adapun contoh penerapan orientasi baru dalam psikologi pendidikan untuk kajian  pendidkan anak usia dini (PAUD) secara umum dapat tergambarkan sebagai berikut :

1.        Berpusat pada anak,
Prakarsa kegiatan tumbuh dari anak dan anak memilih bahan-bahan dan memutuskan apa yang akan dikerjakan. Anak juga mengekspresikan bahan-bahan secara aktif dengan seluruh inderanya.
2.      Bermain sambil belajar.
 Kegiatan bermain merupakan pekerjaan yang serius bagi anak. oleh karena itu guru harus mampu menyiapkan permainan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. salah satu permainan yang bisa dikembangkan oleh guru adalah permainan berbasis budaya lokal atau permainan tradisional.
3.      Guru sebagai fasilitator.
 Model pembelajaran saat ini sebaiknya mengembangkan Student Center Learning. Jadi, proses pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru.
4.      Proses pembelajaran lebih mengutamakan pada peningkatan kecerdasan emosional daripada kemampuan kognitif anak.
Kalau dulunya guru-guru lebih menekankan kepada siswa agar bisa menguasai materi yang diberikan oleh guru, maka pembelajaran saat ini bukan hanya untuk meningkatan kemampuan kognitif siswa tetapi juga kecerdasan emosionalnya
5.      Mengajarkan anak tentang nilai-nilai karakter dalam proses pembelajaran. Penanaman nilai-nilai ini bisa dilakukan melalui metode bercerita. Guru menyampaikan cerita-cerita teladan kepada anak yang di dalamnya terkandung nilai-nilai karakter yang bisa diteladani oleh anak.
6.      Proses pembelajaran sebaiknya tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi juga dilakukan di luar kelas.
Guru juga bisa memanfaatkan tempat-tempat edukatif lainnya dalam proses pembelajaran, misalnya museum, kebun binatang, dan sebagainya.

Selain hal tersebut di atas, contoh penerapan  orientasi baru pendidikan anak usia dini dapat pula di jabarkan sebagai berikut  :

1.        Penerapan teori Behavioristik dalam kegiatan pembelajaran

Ketika kita menginginkan anak-anak belajar, maka kita harus memberikan rangsangan kepada mereka. Ada dua jenis rangsangan dalam konteks ini, yaitu rangsangan yang langsung membuat siswa memberikan respon dan rangsangan yang tidak membuat siswa memberikan respon. Kita sebut saja rangsangan yang menimbulkan respon langsung adalah nilai, dan rangsangan yang tidak menimbulkan respon adalah materi pelajaran.
Pada dasarnya setiap siswa merasa senang apabila mendapatkan nilai yang baik, tetapi mereka tidak terpengaruh oleh materi pelajaran. Materi pelajaran sendiri bersifat netral (tidak berpengaruh) pada diri siswa. Yang membuat siswa terpengaruh adalah nilai yang baik dari guru. Oleh karena itu, agar siswa memberikan respon pada materi pelajaran (mau mempelajari materi pelajaran), maka harus diberikan rangsangan lain yaitu nilai yang baik. Dengan kata lain, siswa diberi nilai baik setelah mempelajari materi pelajaran. dan ini harus dilakukan secara berulang-ulang.
Akhirnya harus disadari oleh kita semua bahwa agar terjadi perubahan yang relatif permanen pada diri siswa, maka kegiatan (sebagai bentuk pengalaman) harus dilakukan secara berulang-ulang. Dari konsep ini kita tahu mengapa siswa kita tidak menunjukkan hasil belajar yang memadai setelah mengikuti ceramah kita yang hanya sekali!



2.       Penerapan teori psikodinamika dalam pembelajaran

Dalam penerapanya psikodinamika dalam pembelajaran mencakup s truktur kepribadian meliputi id, ego dan superego(freud). Id adalah struktur yg paling mendasar dalam kepribadian, seluruhnya tidak didasari dan bekerja menurut prinsip kesenangan tujuannya memenuhi kepuasan yang segera. Apabila rasa Id-nya menguasai sebagian besar energy psikis itu, maka pribadi anak tersebut cenderung bertindak primitive, implusif dan agresif dan ia akan mengubar implus-implus primitifnya.
Ego berkembang dari Id yang mengontrol kesadaran atas prilaku anak. Apabila egonya menguasai sebagian besar energy psikis, maka pribadi anak tersebut bertindak dengan cara-cara yang realistic dan logis serta rasional. Sedangkan superego dalam struktur kepribadian merupakan refleksasi nilai-nilai social dan menyadarkan individu anak atas tuntutan moral. Apabila hal ini menguasai psikis anak maka anak tersebut cenderung pada hal-hal yang bersifat moralitas, mengejar hal-hal yang sempurna walaupun itu irrasional.
Oleh karena itu dalam hal ini peran guru sangatlah penting dalam  memberikan bimbingan, preventif atau treatmen  dalam dinamika keribadian untuk kelangsungan proses tumbuh kembang anak baik di lingkungan sekolah, keluraga ataupun dalam lingkungan masyarakat anak.

3.       Penerapan teori Kognitif(Gestalt) dalam pembelajaran

Penerapan teori ini dalam pembelajaran mencakup  :
·         pengalaman tilikan (insight) yang mana  dalam proses pembelajaran anak memiliki kemampuan mengenal keterkaitan unsure-unsur dalam suatu objek atau peristiwa.
·          Pembelajaran yang bermakna(meaningfull learning) yang mana anak memiliki kemampuan memecahkan masalahkhusunya identifikasi masalah dan mengembangkan solusi sehingga bermakna jelas dan logis dalam arti mereka memiliki manfaat dalam kehidupannya.
·         Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan.. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari “tujuan” sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu anak  dalam memahami tujuannya.
·         Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu anak memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
·         Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Transfer belajar akan terjadi apabila anak  telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan “generalisasi” untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.
(Menguasai prinsip pokok dan digeneralisasikan untuk memecahkan
masalah lain yang serupa yang pernah ia pelajari prinsip pokoknya)


4.       Penerapan teori humanis dalam pembelajaran

 Dalam proses belajar-mengajar misalnya, guru mestinya memperhatikan teori ini. Apabila guru menemukan kesulitan untuk memahami mengapa anak-anak tertentu tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengapa anak tidak dapat tenang di dalam kelas, atau bahkan mengapa anak-anak tidak memiliki motivasi untuk belajar. Menurut Maslow, guru tidak bisa menyalahkan anak atas kejadian ini secara langsung, sebelum memahami barangkali ada proses tidak terpenuhinya kebutuhan anak yang berada di bawah kebutuhan untuk tahu dan mengerti. Bisa jadi anak-anak tersebut belum atau tidak melakukan makan pagi yang cukup, semalam tidak tidur dengan nyenyak, atau ada masalah pribadi / keluarga yang membuatnya cemas dan takut, dan lain-lain. Selain itu penerapan dari teori humnistik ini dapat teraplikasi dengan metode-metode pembelajaran seperti  : (1)  Open Education atau Pendidikan Terbuka, (2)  Cooperative Learning  atau Belajar Kooperatif, (3)  Independent Learning  (Pembelajaran Mandiri), (4) Student Centered Learning (Belajar yang Terpusat pada  Siswa).
C.     Peningkatan Kemandirian Anak Usia dini

Kemandirian anak usia dini adalah kemampuan untuk melakukan kegiatan atau tugas sehari-hari sendiri atau dengan sedikit bimbingan sesuai dengan tahapan perkembangan yang dimilikinya. Kemandirian dapat terbentuk setelah melalui proses pendidikan dan latihan yang terarah dan berkesinambungan.
Menurut Pam Schiller & Tamera Briyant, terdapat bebeapa cara yang diterapkan guru dalam rangka mendidik kemandirian anak usia dini sesuai dengan motivasi dan perkembangannya adalah sebagai berikut :
1.        Modeling, dalam hal ini guru harus mampu menjadi figure bagi anak-anaknya
2.       Listening, guru mengandalkan kemampuan pendengaran anak.
3.       Kunjungan, dalam hal ini gur bersama anak berkunjung ke rumah orang yang berusia lanjut, memberi kesempatan kepada anak untuk berinteraksi dengan orang tersebut sehingga akan timbul jiwa social
4.       Recreation, guru mengajak anak untuk belajar di alam terbuka atau belajar dengan alam
5.       Permainan, yang terdiri dari permainan peran, permainan alat, permainan teka-teki dan lain sebagainya.
6.       Bernyanyi atau berpuisi, guru membimbing anak untuk bernyanyi dan berpuisi yang disesuaikan dengan tujuan.
7.       Diskusi, guna membuka pikiran anak tentang berbagai hal sehingga akan terbentuk sikap dan sifat keterbukaan pada diri anak.
8.       Drama, untuk meningkatkan kreatifitas dan melatih mental anak.
9.       Cerita, hal ini dilakukan untuk melatih imajinasi anak, dan isi dari cerita anak tersebut bisa menjadi konsep bagi perkembangan moral anak.
10.   Cooking, untuk melatih kerjasama dan rasa tanggung jawab
11.      Camping, dapat membuka diri anak dengan bergaul bersama teman-teman seusiannya, sehingga anak mampu memahami karakter yang berbeda dari setiap karakter.
12.    Reward, memberikan penghargaan berupa symbol kepada anak yang melakukan sesuatu yang baik.
13.    Proyek seni, hal ini berguna untuk melatih kesabaran anak bagaimana proses penyelesaian proyek dari awal hingga akhir.
14.    Nonton televise atau mendengarkan radio, sebagai bahah diskusi untuk memahami dan menghargai perasaan orang lain.

Secara umum, kemandirian bisa diukur melalui bagaimana anak bertingkah laku secara fisik, namun tidak hanya itu kemandirian bisa juga berwujud pada prilaku emotional dan sosialnya. Contoh sederhana, anak usia 3-4 tahun yang sudah bisa menggunakan alat makan seharusnya bisa makan sendiri, memakai celana sendiri, dan saat hendak buang air ia bisa ke toilet sendiri. Dengan kata lain, anak bisa melakukan kemampuan dasarnya ini adalah bentuk kemandirian secara fisik.
Kemandirian juga dapat diartikan sebagi keterampilan untuk membantu diri sendiri, baik kemandirian secara fisik, maupun secara psikologis. Kemampuan secara fisik adalah kemampuan untuk mengurus dirinya sendiri sedangkan kemampuan kemandirian secara psikologis adalah kemampuan untuk membuat keputusan dan memecahkan masalah yang dihadapi.