Ujian Tengah Semester
Orientasi Baru Psikologi
Pendidikan
![]() |
Disusun oleh :
Henny
7516120237
Dosen : Prof. Yufiarti,
M.Pd
PROGRAM PASCASARJANA
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2013
Soal
UTS :
1.
Jelaskan
yang dimaksud dengan orientasi baru psikologi pendidikan
2.
Berikan
contoh penerapan dalam Pendidikan Anak
Usia Dini (PAUD)
3.
Bagaiman
meningkatkan kemandirian anak di Pendidikan anak usia dini (PAUD)
Berikut
ini adalah jawaban dari soal ujian Tengah semester
A.
Orientasi
Baru dalam Psikologi Pendidikan
Orientasi baru
psikologi pendidikan adalah suatu pandangan yang mendasari pikiran, perhatian,
kecenderungan ataupun pengenalan dan
adaptasi terhadap perilaku manusia di dunia pendidikan yang
meliputi studi sistematis tentang proses dan faktor-faktor yang
berhubungan dengan pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkan dan
meningkatkan kualitas pendidikanyang
berupa indoktrinasi terhadap filosofi, aliran-aliran psikologi dalam ilmu pendidikan untuk
menentukan arah sikap yang tepat dan benar dengan tujuan untuk memberikan
pemahaman kepada pembelajar tentang ruang lingkup psikologi dalam pendidikan
dan memberikan informasi tentang kajian-kajian psikologi dalam bidang
pendidikan berupa aliran-aliran serta teori-teori pembelajaran yang digunakan
sehingga tidak timbul kesalahan dalam pengkajiannya. Orientasi baru psikologi
pendidikan juga dimaksudkan untuk memberikan arahan pada pembelajar psikologi
kaitannya dengan pendidikan.
Orientasi baru
psikologi pendidikan ini mencakup :
·
konsep-konsep
ilmu jiwa dan konsep psikologi,
·
Psikologi
teoritis dan psikologi terapan,
·
Segi
kemanusiaan (individu, social, ketuhanan),
·
mahzab
psikologi pendidikan yang meliputi;
ü
Behaviorisme
(Pavlov, Watson, Skinner, Bandura);
ü
Psikodinamika
(Frued, Jung, Adler, Kunkel);
ü
Humanis
(Maslow)
ü
Kognitif
ü
· Psikologi
Belajar, yang mencakup persamaan dan perbedaan konsep belajar, berkembang dan
berpikir serta factor-faktor IQ, MI, EQ, CQ, AQ, motivasi, sumber, prinsip dan
strategi pembelajaran.
B.
Penerapan
Orientasi Baru Psikologi Pendidikan dalam Pembelajaran Anak Usi Dini
Adapun contoh penerapan orientasi baru dalam
psikologi pendidikan untuk kajian
pendidkan anak usia dini (PAUD) secara umum dapat tergambarkan sebagai
berikut :
1.
Berpusat pada anak,
Prakarsa kegiatan tumbuh dari anak dan anak memilih bahan-bahan dan
memutuskan apa yang akan dikerjakan. Anak juga mengekspresikan bahan-bahan
secara aktif dengan seluruh inderanya.
2. Bermain
sambil belajar.
Kegiatan bermain merupakan pekerjaan
yang serius bagi anak. oleh karena itu guru harus mampu menyiapkan permainan
yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. salah satu permainan yang bisa
dikembangkan oleh guru adalah permainan berbasis budaya lokal atau permainan
tradisional.
3. Guru
sebagai fasilitator.
Model pembelajaran saat ini
sebaiknya mengembangkan Student Center Learning.
Jadi, proses pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru.
4. Proses
pembelajaran lebih mengutamakan pada peningkatan kecerdasan emosional daripada
kemampuan kognitif anak.
Kalau dulunya guru-guru lebih menekankan kepada siswa agar bisa
menguasai materi yang diberikan oleh guru, maka pembelajaran saat ini bukan
hanya untuk meningkatan kemampuan kognitif siswa tetapi juga kecerdasan
emosionalnya
5. Mengajarkan
anak tentang nilai-nilai karakter dalam proses pembelajaran. Penanaman
nilai-nilai ini bisa dilakukan melalui metode bercerita. Guru menyampaikan
cerita-cerita teladan kepada anak yang di dalamnya terkandung nilai-nilai
karakter yang bisa diteladani oleh anak.
6. Proses
pembelajaran sebaiknya tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi juga
dilakukan di luar kelas.
Guru juga bisa memanfaatkan tempat-tempat edukatif lainnya dalam
proses pembelajaran, misalnya museum, kebun binatang, dan sebagainya.
Selain
hal tersebut di atas, contoh penerapan
orientasi baru pendidikan anak usia dini dapat pula di jabarkan sebagai
berikut :
1.
Penerapan
teori Behavioristik dalam kegiatan pembelajaran
Ketika kita
menginginkan anak-anak belajar, maka kita harus memberikan rangsangan kepada
mereka. Ada dua jenis rangsangan dalam konteks ini, yaitu rangsangan yang
langsung membuat siswa memberikan respon dan rangsangan yang tidak membuat
siswa memberikan respon. Kita sebut saja rangsangan yang menimbulkan respon
langsung adalah nilai, dan rangsangan yang tidak menimbulkan respon adalah
materi pelajaran.
Pada dasarnya
setiap siswa merasa senang apabila mendapatkan nilai yang baik, tetapi mereka
tidak terpengaruh oleh materi pelajaran. Materi pelajaran sendiri bersifat
netral (tidak berpengaruh) pada diri siswa. Yang membuat siswa terpengaruh
adalah nilai yang baik dari guru. Oleh karena itu, agar siswa memberikan respon
pada materi pelajaran (mau mempelajari materi pelajaran), maka harus diberikan
rangsangan lain yaitu nilai yang baik. Dengan kata lain, siswa diberi nilai
baik setelah mempelajari materi pelajaran. dan ini harus dilakukan secara
berulang-ulang.
Akhirnya harus disadari oleh
kita semua bahwa agar terjadi perubahan yang relatif permanen pada diri siswa,
maka kegiatan (sebagai bentuk pengalaman) harus dilakukan secara
berulang-ulang. Dari konsep ini kita tahu mengapa siswa kita tidak menunjukkan
hasil belajar yang memadai setelah mengikuti ceramah kita yang hanya sekali!
2.
Penerapan
teori psikodinamika dalam pembelajaran
Dalam
penerapanya psikodinamika dalam pembelajaran mencakup s truktur kepribadian
meliputi id, ego dan superego(freud). Id adalah struktur yg paling mendasar
dalam kepribadian, seluruhnya tidak didasari dan bekerja menurut prinsip
kesenangan tujuannya memenuhi kepuasan yang segera. Apabila rasa Id-nya
menguasai sebagian besar energy psikis itu, maka pribadi anak tersebut
cenderung bertindak primitive, implusif dan agresif dan ia akan mengubar
implus-implus primitifnya.
Ego
berkembang dari Id yang mengontrol kesadaran atas prilaku anak. Apabila egonya
menguasai sebagian besar energy psikis, maka pribadi anak tersebut bertindak
dengan cara-cara yang realistic dan logis serta rasional. Sedangkan superego
dalam struktur kepribadian merupakan refleksasi nilai-nilai social dan
menyadarkan individu anak atas tuntutan moral. Apabila hal ini menguasai psikis
anak maka anak tersebut cenderung pada hal-hal yang bersifat moralitas,
mengejar hal-hal yang sempurna walaupun itu irrasional.
Oleh
karena itu dalam hal ini peran guru sangatlah penting dalam memberikan bimbingan, preventif atau treatmen
dalam dinamika keribadian untuk
kelangsungan proses tumbuh kembang anak baik di lingkungan sekolah, keluraga
ataupun dalam lingkungan masyarakat anak.
3.
Penerapan
teori Kognitif(Gestalt) dalam pembelajaran
Penerapan
teori ini dalam pembelajaran mencakup :
·
pengalaman
tilikan (insight) yang mana dalam proses
pembelajaran anak memiliki kemampuan mengenal keterkaitan unsure-unsur dalam
suatu objek atau peristiwa.
·
Pembelajaran yang bermakna(meaningfull
learning) yang mana anak memiliki kemampuan memecahkan masalahkhusunya
identifikasi masalah dan mengembangkan solusi sehingga bermakna jelas dan logis
dalam arti mereka memiliki manfaat dalam kehidupannya.
·
Perilaku
bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan.. Oleh
karena itu, guru hendaknya menyadari “tujuan” sebagai arah aktivitas pengajaran
dan membantu anak dalam memahami
tujuannya.
·
Prinsip
ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu anak memiliki keterkaitan
dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan
hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan
peserta didik.
·
Transfer
dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran
tertentu ke situasi lain. Transfer belajar akan terjadi apabila anak telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari
suatu persoalan dan menemukan “generalisasi” untuk kemudian digunakan dalam
memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat
membantu peserta didik untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang
diajarkannya.
(Menguasai prinsip pokok dan digeneralisasikan untuk memecahkan
(Menguasai prinsip pokok dan digeneralisasikan untuk memecahkan
masalah
lain yang serupa yang pernah ia pelajari prinsip pokoknya)
4.
Penerapan
teori humanis dalam pembelajaran
Dalam proses belajar-mengajar misalnya, guru
mestinya memperhatikan teori ini. Apabila guru menemukan kesulitan untuk
memahami mengapa anak-anak tertentu tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengapa
anak tidak dapat tenang di dalam kelas, atau bahkan mengapa anak-anak tidak
memiliki motivasi untuk belajar. Menurut Maslow, guru tidak bisa menyalahkan
anak atas kejadian ini secara langsung, sebelum memahami barangkali ada proses
tidak terpenuhinya kebutuhan anak yang berada di bawah kebutuhan untuk tahu dan
mengerti. Bisa jadi anak-anak tersebut belum atau tidak melakukan makan pagi
yang cukup, semalam tidak tidur dengan nyenyak, atau ada masalah pribadi /
keluarga yang membuatnya cemas dan takut, dan lain-lain. Selain itu penerapan
dari teori humnistik ini dapat teraplikasi dengan metode-metode pembelajaran
seperti : (1) Open Education atau Pendidikan Terbuka, (2) Cooperative Learning atau Belajar Kooperatif, (3) Independent Learning (Pembelajaran Mandiri), (4) Student Centered
Learning (Belajar yang Terpusat pada
Siswa).
C.
Peningkatan
Kemandirian Anak Usia dini
Kemandirian anak usia dini
adalah kemampuan untuk melakukan kegiatan atau tugas sehari-hari sendiri atau
dengan sedikit bimbingan sesuai dengan tahapan perkembangan yang dimilikinya.
Kemandirian dapat terbentuk setelah melalui proses pendidikan dan latihan yang
terarah dan berkesinambungan.
Menurut Pam Schiller &
Tamera Briyant, terdapat bebeapa cara yang diterapkan guru dalam rangka
mendidik kemandirian anak usia dini sesuai dengan motivasi dan perkembangannya
adalah sebagai berikut :
1.
Modeling,
dalam hal ini guru harus mampu menjadi figure bagi anak-anaknya
2. Listening, guru mengandalkan
kemampuan pendengaran anak.
3. Kunjungan, dalam hal ini gur
bersama anak berkunjung ke rumah orang yang berusia lanjut, memberi kesempatan
kepada anak untuk berinteraksi dengan orang tersebut sehingga akan timbul jiwa
social
4. Recreation, guru mengajak
anak untuk belajar di alam terbuka atau belajar dengan alam
5. Permainan, yang terdiri dari
permainan peran, permainan alat, permainan teka-teki dan lain sebagainya.
6. Bernyanyi atau berpuisi, guru
membimbing anak untuk bernyanyi dan berpuisi yang disesuaikan dengan tujuan.
7. Diskusi, guna membuka pikiran
anak tentang berbagai hal sehingga akan terbentuk sikap dan sifat keterbukaan
pada diri anak.
8. Drama, untuk meningkatkan
kreatifitas dan melatih mental anak.
9. Cerita, hal ini dilakukan
untuk melatih imajinasi anak, dan isi dari cerita anak tersebut bisa menjadi
konsep bagi perkembangan moral anak.
10. Cooking, untuk melatih
kerjasama dan rasa tanggung jawab
11. Camping, dapat membuka diri
anak dengan bergaul bersama teman-teman seusiannya, sehingga anak mampu
memahami karakter yang berbeda dari setiap karakter.
12. Reward, memberikan
penghargaan berupa symbol kepada anak yang melakukan sesuatu yang baik.
13. Proyek seni, hal ini berguna
untuk melatih kesabaran anak bagaimana proses penyelesaian proyek dari awal
hingga akhir.
14. Nonton televise atau
mendengarkan radio, sebagai bahah diskusi untuk memahami dan menghargai
perasaan orang lain.
Secara umum, kemandirian bisa
diukur melalui bagaimana anak bertingkah laku secara fisik, namun tidak hanya
itu kemandirian bisa juga berwujud pada prilaku emotional dan sosialnya. Contoh
sederhana, anak usia 3-4 tahun yang sudah bisa menggunakan alat makan
seharusnya bisa makan sendiri, memakai celana sendiri, dan saat hendak buang
air ia bisa ke toilet sendiri. Dengan kata lain, anak bisa melakukan kemampuan
dasarnya ini adalah bentuk kemandirian secara fisik.
Kemandirian juga dapat
diartikan sebagi keterampilan untuk membantu diri sendiri, baik kemandirian
secara fisik, maupun secara psikologis. Kemampuan secara fisik adalah kemampuan
untuk mengurus dirinya sendiri sedangkan kemampuan kemandirian secara
psikologis adalah kemampuan untuk membuat keputusan dan memecahkan masalah yang
dihadapi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar